2017, Perekonomian Sulteng Diprediksi Tumbuh Dua Digit

- Periklanan -

Ilustrasi.

PALU – Melihat kondisi perekonomian Provinsi Sulawesi Tengah yang semakin membaik, Bank Indonesia (BI) menilai prospek perekonomian Sulteng pada 2017 diprediksi masih cukup baik dan tumbuh dua digit, yaitu pada kisaran 10,2 persen – 10,6 persen (yoy). Sedangkan untuk periode triwulan I-2017 ini, diproyeksi ekonomi Sulteng akan tumbuh di kisaran 8,6 persen – 9 persen (yoy).

Kepala KPw BI Provinsi Sulteng, Miyono mengatakan, prospek pertumbuhan yang baik itu seiring dengan perkiraan membaiknya harga komoditas utama khususnya nikel yang tentunya akan berdampak pada meningkatnya ekspor. Selain itu, produksi hasil smelter diperkirakan juga akan semakin optimal dengan tambahan output dari pabrik pengolahan baru di Kabupaten Morowali Utara.

Lanjutnya, tambahan output perekonomian juga berasal dari nilai tambah produk hilirisasi amonia dan pengembangan produk unggulan di sektor pertanian, terutama sub-sektor perkebunan dan perikanan skala menengah yang semakin baik.

- Periklanan -

“Optimisme pada sektor pertanian ini ditunjang dengan upaya positif dari pemerintah daerah khususnya dalam melakukan pembenahan pelayanan publik, pembangunan infrastruktur irigasi, jalan dan bandara, sehingga konektivitas antar daerah semakin baik,” ungkapnya, kemarin (8/3).

Sedangkan pada triwulan II-2017 nanti, BI memprediksikan bahwa tekanan inflasi akan mengalami sedikit peningkatan. Namun, melalui upaya penguatan koordinasi Tim Pengendalian Inflasi daerah (TPID) Sulteng dan peningkatan kerjasama antar kabupaten/kota di Sulteng, diharapkan dapat mengendalikan dan menjaga pasokan maupun tingkat harga komoditas pangan strategis.

“Tekanan inflasi diperkirakan dipengaruhi oleh harga kelompok administered prices yang diperkirakan mengalami peningkatan seiring dengan adanya pengurangan subsidi listrik, dimana kondisi tersebut dapat memicu kenaikan harga komoditas tarif listrik maupun memberikan tekanan second round effect pada komoditas lainnya,” terangnya.

Lanjutnya Miyono, tingginya harga minyak diperkirakan dapat mendorong peningkatan harga bahan bakar rumah tangga. Di samping itu, tingginya harga bahan bakar juga diperkirakan dapat memberikan tekanan pada kenaikan harga dari komoditas pada kelompok volatile food.

“Sementara itu, komoditas yang berada pada kelompok inti diperkirakan juga akan mengalami tekanan inflasi seiring dengan peningkatan permintaan masyarakat dalam menyambut pilkada serentak dan persiapan perhelatan berbagai festival budaya dalam menyambut ulang tahun Kota Palu,” tandasnya (hqr)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.