Tiga Pembunuh Yeyen, Terancam Penjara Seumur Hidup

- Periklanan -

Inilah tiga pelaku pembunuh Nurfaizah Adjen alias Yeyen, korban yang jenazahnya ditemukan di wilayah Kelurahan Kawatuna Maret lalu. Tiga pelaku ini, Senin (13/8) menjalani sidang tuntutan. Mereka dituntut dengan pidana penjara seumur hidup. (Foto: Wahono)

PALU – Sepertinya, hari-hari yang akan dilalui Umar, Indra dan Dhita Andira, akan terlewatkan begitu saja di balik jeruji besi (Penjara). Pasalnya, ancaman pidana penjara seumur hidup telah menanti ke tiga terdakwa kasus dugaan tindak pidana pencurian dan kekerasan yang menyebabkan meninggalnya korban Nurfaizah Adjen alias Yeyen (45), wanita yang ditemukan tewas dengan tangan terikat di semak belukar 3 Maret 2018 silam.

Ancaman pidana penjara tersebut, merupakan ganjaran hukuman yang dituntutkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) bagi perbuatan ketiganya, di dalam sidang pembacaan tuntutan, di Pengadilan Negeri (PN) Klas IA/PHI/Tipikor Palu, Senin (13/8). Di hadapan majelis hakim, yang diketuai hakim HJ Aisa H Mahmud SH MH, terdakwa Umar, Dhita dan Indra hanya bisa menarik nafas panjang mendengarkan tuntutan yang dibacakan Junaidy SH.

Selain tak banyak berkata, ketiganya hanya bisa menunduk meratapi kesalahan dan perbuatan, yang dalam tuntutan JPU telah terbukti bersalah secara sah dan meyakinkan. Junaidy, menguraikan perbuatan terdakwa Umar, Dhita dan Indra yang diperiksa dalam satu berkas perkara, telah terbukti bersalah melakukan tindak pidana pencurian dan kekerasan yang mengakibatkan meninggal dunia.

‚ÄúMenjatuhkan pidana terhadap para terdakwa berupa pidana penjara masing-masing seumur hidup, dengan perintah¬† para terdakwa tetap ditahan,‚ÄĚ kata Junaidy membacakan amar tuntutan ke tiga terdakwa.

Lebih dijelaskan Junaidy, perbuatan ke tiga terdakwa, melakukan pencurian dan kekerasan yang menyebabkan matinya korban, telah terbukti  sebagaimana diatur dan diancam pidana Pasal 365 ayat 4 KUHPidana, atau terbukti sebagaimana  dakwaan pertama.

‚ÄúPertimbangan yang memberatkan dari perbuatan terdakwa adalah, mengakibatkan kematian korban perempuan, Nurfaizah Adjen alias Yeyen, sesuai hasil visum Et Repertum Nomor : Ver/05/III/2018, Rumah Sakit Wirabuana pada tanggal 3 Maret 2018, yang dibuat dan ditandatangani oleh dr. Moh Ali, sebagai dokter pemeriksa,‚ÄĚ sebut Junaidy lagi.

Selain itu, tuntutan pidana seumur hidup tersebut, juga karena pertimbangan bahwa perbuatan para terdakwa merupakan perbuatan yang keji. Kemudian perbuatan para terdakwa menimbulkan penderitaan yang mendalam bagi keluarga korban, serta menimbulkan dampak rasa tidak aman bagi orang lain.

- Periklanan -

“Hal yang meringankan bagi para terdakwa yakni para terdakwa bersikap sopan dalam persidangan, para terdakwa mengakui terus terang perbuatannya dan menyesali perbuatan itu, “ urai Junaidy.

Untuk barang bukti, yang merupakan barang-barang korban yang dicuri oleh para terdakwa, seperti dua unit Handpone lipat merk Samsung, satu unit handpone Nokia, serta satu unit handpone Oppo. Kemudian satu buah batu permata warna hitam, sisa peleburan cincin emas, dan satu buah mata kalung emas, dinyatakan dikembalikan kepada keluarga korban Yeyen.

‚ÄúSementara barang bukti, satu baju kaos warna merah muda yang terdapat bercak darah, satu buah celana pendek warna hitam, satu buah bra warna putih, satu buah tali tas besar warna hitam, satu buah tali tas warna hitam, satu buah tali kain warna putih dirampas untuk dimusnahkan,‚ÄĚ tandas Junaidy.

Sementara mobil yang digunakan para terdakwa untuk beraksi serta menjadi tempat korban Yeyen meregang nyawa, yakni Mobil Avanza warna hitam DN 743 AQ, dikembalikan kepada pemiliknya Moh Aldi Angriyawan alias Anggi.

Atas tuntutan pidana seumur hidup tersebut, ketiga terdakwa bersama kuasa hukumnya diberikan kesempatan untuk mengajukan pembelaan di sidang selanjutnya  pada pekan mendatang. Berdasarkan data Radar Sulteng sidang tuntutan terdakwa Umar, Dhita, dan terdakwa Indra ini baru terlaksana setelah alami penundaan sebanyak enam kali.

Penundaan yang panjang dalam perkara ini dikarenakan JPU masih menunggu rencana penuntutan (rentut) perkara tersebut.¬† Karena ternyata perkara korban Yeyen ini, tidak hanya menjadi atensi Kejati Sulteng, tetapi juga menuai atensi dari Kejaksaan Agung (Kejagung RI). ‚ÄúTertunda karena menunggu rentut dari Kejagung,‚ÄĚ aku Junaidy yang ditemui pekan sebelumnya.

Diberitakan sebelumnya, perkara yang menjerat terdakwa Umar, Dhita dan Indra ini terjadi akhir Februari 2018 lalu. Ketiganya memang telah merencanakan untuk mencuri harta benda milik korban. Sampai dalam melakukan aksi kejahatan itu, para terdakwa rela menyewa rental.  Dalam melakukan aksi kejahatan itu, salah satu diantaranya yakni terdakwa Indra berpura-pura menjadi seorang tamu, yang ingin mendapatkan kepuasan dari korban.

Selanjutnya korban diJemput, oleh Indra yang sudah menggunakan mobil sewaan. Saat itu, di dalam mobil telah ada terdakwa Umar dan Dhita yang bersembunyi di jok bagian belakang, dan telah membawa tali untuk menjerat leher korban.  Di mobil itulah korban Yeyen dihabisi, kemudian harta-hartanya diambil termasuk yang ada di kos sewaan korban. Setelah dari situ jenazah korban dibuang di Kelurahan Kawatuna. Pada 3 Maret 2018 silam, penemuan jenazah Yeyen dengan kondisi terikat inilah yang menggegerkan warga di Kelurahan Kawatuna. Bahkan kasusnya sempat viral di media sosial. (cdy)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.